Kawasan pegunungan yang dahulu dikenal dengan udaranya yang menusuk tulang kini mulai kehilangan identitas alaminya secara perlahan. Fenomena mengenai suhu udara Kota Bunga yang terus merangkak naik menjadi perbincangan hangat di kalangan wisatawan maupun penduduk lokal yang sudah tinggal selama puluhan tahun di sana. Perubahan iklim mikro ini bukan lagi sekadar isu lingkungan global, melainkan dampak nyata dari perubahan tata guna lahan yang sangat masif di wilayah yang seharusnya menjadi daerah resapan air dan paru-paru hijau bagi kawasan sekitarnya.
Penyebab utama meningkatnya suhu udara Kota Bunga adalah alih fungsi lahan hutan dan perkebunan menjadi kawasan villa serta perumahan komersial. Pohon-pohon besar yang berfungsi sebagai pengatur suhu alami dan penyerap karbon kini banyak yang ditebang untuk digantikan dengan atap beton dan aspal jalanan. Material bangunan ini memiliki sifat menyerap dan menyimpan panas matahari, yang kemudian dilepaskan kembali ke lingkungan sekitar pada malam hari, menciptakan efek pulau panas perkotaan yang membuat udara tidak lagi sejuk seperti sediakala.
Selain faktor hilangnya vegetasi, kepadatan volume kendaraan bermotor yang membawa ribuan wisatawan setiap akhir pekan turut berkontribusi pada perubahan suhu udara Kota Bunga. Emisi gas buang dari knalpot kendaraan yang terjebak kemacetan panjang meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di lapisan atmosfer bawah kawasan tersebut. Hal ini diperparah dengan penggunaan pendingin ruangan (AC) yang semakin marak di bangunan-bangunan modern di wilayah tersebut, sebuah pemandangan yang sangat jarang ditemukan satu atau dua dekade yang lalu karena udara alami sudah cukup dingin.
Dampak dari kenaikan suhu udara Kota Bunga mulai dirasakan oleh sektor pertanian, terutama bagi para petani tanaman hias dan sayuran yang membutuhkan suhu spesifik untuk tumbuh maksimal. Beberapa jenis bunga yang biasanya tumbuh subur kini mulai mengalami gangguan pertumbuhan atau memerlukan biaya perawatan ekstra untuk menjaga kelembapan tanahnya. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya upaya penghijauan kembali secara masif, maka daya tarik wilayah ini sebagai destinasi wisata alam yang menyegarkan akan perlahan sirna dan ditinggalkan oleh para pengunjung setianya.
